Rss Feed
  1. JOURNEY 3

    Saturday, January 4, 2014

    Sambungan dari Journey 2

    Kegiatan lain yang saya ikuti yaitu menjadi volunteer sebagai tenaga pengajar di sekolah dasar dan sekolah menengah untuk siswa di Busan khusus mengajar pelajaran Budaya Indonesia. Saya di ajak teman saya untuk bergabung ke program yang namanya CCAP ( Cross Cultural Awareness Program ) ini. Saya sangat tertarik, apalagi mengunjungi berbagai macam sekolah yang ada di Busan, dan mengajarkan siswa disana tentang budaya Indonesia. Langsung saya menyetujui ajakan teman saya. Dan minggu-minggu berikutnya saya sudah di beri jadwal mengajar. Menurut jadwal, saya punya slot mengajar satu minggu sekali setiap hari kamis dengan sekolah yang berbeda setiap minggu nya. Saya mempersiapkan slide presentasi yang khusus saya desain semenarik mungkin agar siswa saya tidak bosan. Tidak lupa saya membawa alat musik tradisional Indonesia yaitu angklung yang saya pinjam dari Persatuan Pelajar Indonesia di kampus saya. Saya mengajarkan mereka tentang lagu anak-anak Indonesia, juga tarian Indonesia seperti tari Saman dan tari asal daerah saya Bangka Belitung. Dengan adanya kegiatan mengajar saya di beberapa sekolah dasar di Korea ini, saya jadi tahu sedikit banyak tentang sistem pendidikan mereka, tentang situasi dan kebiasaan mereka di sekolah. Cukup unik, setiap siswa disediakan sepatu khusus di dalam kelas. Dan sepatu khusus di luar kelas. Selain itu setiap siswa juga disediakan sikat gigi , dan mereka akan menyikat gigi bersama-sama setelah makan siang yang setiap hari disediakan oleh pihak sekolah. Dan setelah saya perhatikan, semua sekolah yang saya kunjungi menerapkan sistem ini. Dan ketika saya bertanya ke teman saya, mereka bilang, hal itu sudah menjadi tradisi . Kebiasaan baik ini patut kita ambil contoh dalam segi kebersihan sekolah dan kesehatan setiap siswa. Biasanya, setelah mengajar saya diajak makan siang oleh guru di sana bersama guru lainnya. Semua guru juga telah disediakan makan siang nya oleh pihak sekolah. Dan yang membuat saya terharu, ada beberapa murid yang menghampiri saya setelah kelas selesai, dan memberikan saya cinderamata sebagai kenang-kenangan. Sungguh, pengalaman ini sangat berkesan dan memberikan arti dalam hidup saya.
    Kembali ke kehidupan saya di kampus, saya juga ingin bercerita tentang teman-teman saya yang berasal dari korea. Seperti yang kita ketahui, penampilan diri sangat penting bagi  orang korea. Mereka berpendapat, dengan penampilan dan wajah yang cantik atau ganteng, hidup mereka akan lebih bermakna dan akan lebih mudah dalam menjalani kehidupan sehari-hari baik itu dalam lingkup pekerjaan atau masalah cinta. Yang namanya operasi plastik itu bukan menjadi hal yang tabu bagi mereka, malahan mereka akan bangga dan memamerkan hasil operasi kepada teman-temannya, dan teman-teman mereka pun akan berdecak kagum. Beberapa teman yang saya kenal pun tanpa ragu mengakui bahwa mereka sudah mengubah bentuk hidung dan kelopak mata mereka. Mereka sangat mengagung-agungkan kelopak mata yang besar dan hidung yang mancung serta wajah yang tirus. Seperti  artis korea yang biasa kita lihat. Selain itu, orang Korea juga sangat suka mabuk-mabukan dengan minum soju, minuman khas Korea. Setelah kelas selesai, biasanya mereka mabuk bersama sampai pagi, tidak terkecuali teman sekelas saya. Bahkan saya pun pernah di ajak mereka untuk minum soju bersama setelah kelas usai. Bagi mereka, minum soju bersama dapat mempererat hubungan pertemanan. Namun, saya menolak ajakan mereka dengan halus dan menjelaskan bahwa saya tidak boleh minum soju, untung nya mereka juga mengerti.
    Saya pernah di ajak menginap selama 3 hari di rumah buddy saya Eunha Jung. Rumahnya terletak di Kota Ulsan, kota kecil dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari kota Busan. Orang tua dan adik eunha sangat baik dan betul-betul menerima kehadiran saya dirumah. Bayangkan saja, ibu eunha menunggu saya di depan pintu untuk menyambut kehadiran saya dirumah, mempersiapkan makan malam spesial dan mengajak saya jalan-jalan keliling kota bersama ayahnya. Mengajak saya berkeliling sampai ke sekolah tempat eunha menuntut ilmu dulu. Adik eunha yang masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) rela pulang lebih awal untuk makan malam bersama saya yang biasanya dia akan berangkat sekolah pukul 7 pagi, dan pulang kerumah pukul 12 malam. Saya baru tahu, kalau rata-rata anak SMA di korea di tuntut untuk selalu belajar di perpustakaan sampai pukul 12 malam demi persiapan ujian akhir untuk masuk universitas. Dan masa-masa inilah yang membuat banyak pelajar di Korea menjadi stress dan banyak sekali kasus bunuh diri yang terjadi. Selama saya menginap di rumah teman saya, ibunya selalu bertanya apa yang ingin saya makan apa, saya ingin menonton siaran apa, dan banyak lagi. Sungguh, saya sangat terharu. Saya betul betul merasakan kehangatan sebuah keluarga Korea yang sangat welcome kepada orang asing.
     Pernah ada kejadian lucu di ruang makan asrama saya. Seperti biasa, setiap hari saya selalu bertanya tentang makanan yang disediakan, apakah itu daging babi atau bukan. “Ahjumma, is this pork?” (Ahjumma adalah panggilan untuk wanita paruh baya, atau biasa kita panggil bibi di Indonesia) | “No, it is Dog”.  What? Saya pun kaget. Mimpi apa saya semalam , saya dapat kenyataan kalau hari ini menu makan nya adalah anjing semur. Seumur hidup, saya belum pernah berhadapan langsung dengan menu anjing semur. Saya pun menghampiri teman Malaysia saya yang sedang makan dengan lahap. Setelah saya beri tahu tentang hal tersebut ke teman saya itu, dia pun hening dan memutuskan untuk berhenti makan. Suasana pun hening seketika. Kemudian, saya menghampiri ahjumma itu lagi untuk bertanya lebih lanjut. “Ahjumma, is it really dog?” |”yes, dog”| “Kae-gogi ?(dalam bahasa korea artinya anjing) ” |”No, Ori-gogi” . Ori-gogi? Saya tidak tahu ori-gogi itu arti nya daging apa. Sewaktu saya tanya apakah itu kae-gogi, dia bilang bukan, arti nya itu bukan daging anjing. Tapi saya masih penasaran. Akhir nya saya cari di google. Dan ternyata ori-gogi itu adalah daging bebek. Saya langsung memberitahu kawan saya, dan kami semua tertawa terbahak-bahak. Ternyata yang dimaksudkan ahjumma tadi adalah Duck bukan Dog. Lagi-lagi kesalahpahaman  dari segi bahasa yang membuat saya tertawa sendiri kalau teringat lagi.
    Waktu berjalan terasa begitu cepat. Setelah selama 1 semester saya menuntut ilmu di PKNU, saya dihadapkan kenyataan bahwa saya harus kembali ke kampus saya di Malaysia. Pikiran saya campur aduk, saya masih belum bisa meninggalkan semua kenangan yang ada. Semua nya terasa indah, dari mulai suasana musim dingin, musim semi dengan bunga yang bermekaran, dan musim panas dengan festival pantai nya, serta suasana kampus, kelas, teman dan dosen. Semuanya terlalu indah untuk di tinggalkan. Tapi mau tidak mau saya memang harus meninggalkan semuanya. Sebelum saya meninggalkan Korea, saya berpamitan satu persatu ke semua teman dan dosen saya di kampus. Dan tidak lupa berpamitan kepada ahjumma yang menjaga dewan makan. 

    Bersambung .....

  2. 0 comments:

    Post a Comment