Rss Feed
  1. JOURNEY 1

    Saturday, January 4, 2014

    Entah kenapa dari kecil saya memang selalu bermimpi untuk bisa merasakan rasanya tinggal di negeri orang yang notabene berbeda dari negara kita baik dalam hal suasana, adat, budaya, dan masih banyak lagi perbedaan lain. Saya yang dulu masih SD sangat terpesona melihat pemandangan eropa dan asia yang indah setelah melihat berbagai macam siaran travelling di TV. Rasanya ingin sekali merasakan secara langsung memetik raspberry dan blueberry secara langsung seperti di layar kaca. Dan  dalam hati saya berkata bahwa suatu saat saya akan mewujudkan mimpi saya ini. Berlanjut ke SMP keinginan saya untuk menginjakkan kaki di negeri yang belum pernah saya tempuh semakin menggebu-gebu dan terus berlanjut sampai SMA dengan keinginan tambahan untuk merasakan sistem pendidikan yang ada di negeri orang dan merasakan bagaimana rasanya bias bersosialisasi dengan orang yang berbeda budaya dengan kita. Iya, dulu saya sempat sangat bersemangat untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika selama 1 tahun setelah mendapat informasinya dari guru SMA.  Waktu itu saya sudah kelas 2 , dan ternyata syarat wajib untuk mendaftar adalah harus tercatat sebagai siswa kelas 1.  Praktis hati saya hancur berkeping-keping dan merasakan bahwa kesempatan untuk merasakan belajar di luar negeri sudah hilang. Bayang-bayang pohon maple yang berwarna merah di musim gugur pun rasanya  telah pupus. Namun ternyata rasa kecewa  karena belum bisa mendaftar untuk mengikuti program pertukaran pelajar waktu SMA hanya perasaan kecewa yang numpang lewat.  Harapan untuk bisa merasakan tinggal di luar negeri, belajar bersama orang luar, merasakan system pendidikan dan memiliki teman dari luar masih kuat tertanam dalam hati. Dan saya juga sangat termotivasi setelah melihat kesuksesan kakak kelas yang berhasil di terima di Universitas luar.
    Jadi setelah lulus SMA, saya mendaftar beasiswa pemerintah daerah untuk melanjutkan studi ke Malaysia. Alhamdulillah saya di terima sebagai salah satu penerima beasiswa dan di terima di salah satu Universitas di Malaysia. Saya sangat bersyukur bias merasakan euforia baru di kehidupan kampus, dan masih menyimpan harapan untuk bias menginjakkan kaki di tanah rantau yang lebih jauh lagi ,ingin sekali mencari pengalaman, ilmu, dan teman sebanyak-banyak nya dari berbagai macam Negara. Saya mencoba mendaftar untuk mengikuti beberapa konferensi yang diadakan di negara luar, tapi waktu itu nasib belum berpihak pada saya dan saya belum di terima untuk jadi salah satu peserta konferensi.  
    Sampai ada informasi dari pihak kampus tentang Pertukaran Pelajar ke Korea Selatan. Program Pertukaran Pelajar ini di rancang khusus oleh pihak kampus Pukyong National University (PKNU) bekerja sama dengan kampus di luar Korea termasuk kampus saya. Kalau saya tidak salah, kampus PKNU ini juga banyak bekerja sama dengan kampus di Indonesia. Selain PKNU, banyak sekali kampus lain di Korea seperti Seoul National University, Inha University, dan kampus lain yang sedang giat-giatnya membuka program pertukaran pelajar. Untuk program kerjasama yang seperti ini, saran saya sering-seringlah mampir ke Pihak International Student Centre di kampus masing-masing dan bertanya apakah ada kerjasama yang di tawarkan oleh pihak kampus dari luar atau tidak. Selain itu rajin lah membuka email kampus yang banyak menyediakan informasi terbaru tentang seleksi pertukaran pelajar.  Saya yang saat itu memang sedang mencari informasi untuk belajar ke luar negeri langsung saja datang ke kantor International Student Centre (ISC). Proses pertama adalah melengkapi dokumen yang di perlukan seperti mengisi formulir pendaftaran, menulis essay motivasi, mencari surat referensi dari dosen, fotokopi passport, fotokopi kartu pelajar, dan fotokopi hasil ujian per semester. Setelah itu langsung di kumpulkan ke staff ISC. Staff ISC akan menyeleksi 10 orang siswa, dan mengirimkan semua formulir aplikasi ke kampus PKNU. Kampus PKNU juga akan me-review semua dokumen, dan apabila mereka setuju , mereka akan mengirimkan offer letter kepada siswa yang terpilih. Kampus saya menyeleksi 10 orang siswa untuk diikutsertakan.  Setelah  beberapa waktu ternyata ada panggilan untuk interview. Saya sangat bersemangat dan berharap bisa mengecap rasanya belajar di negeri gingseng ini dan Alhamdulillah beberapa minggu kemudian saya mendapat kabar baik bahwa saya lolos seleksi sebagai perwakilan kampus dan mendapat offer letter untuk belajar di Pukyong National University  di Busan selama 4 bulan dari akhir Februari sampai akhir bulan Juni.
    Bermula lah kegiatan saya untuk mempersiapkan semua perlengkapan sebelum berangkat, dari mulai pakaian sampai visa. Saya mendapat kesempatan untuk merasakan akhir musim dingin, musim semi dan awal musim panas di kota Busan sebagai kota kedua setelah Seoul. Iya, kota Busan merupakan kota yang tidak seramai kota Seoul sebagai ibukota Negara. Kota Busan memiliki jaringan kereta subway yang tidak serumit di seoul tapi memiliki suasana khas tersendiri.  Sebelum berangkat saya sudah mencari banyak informasi tentang kota Busan di internet. Betapa bahagia nya melihat informasi menarik tentang kota ini. Kota pelabuhan katanya. Kota yang terletak di pinggir laut, dimana banyak sekali pantai yang cantik, dengan suasana khas korea di setiap musim. Musim semi dengan cherry blossom atau bunga sakura nya. Dan khusus di musim panas, ada banyak sekali festival musim panas yang di selenggarakan di kota ini.  Rasanya tidak sabar lagi untuk menginjakkan kaki dan merasakan secara langsung. Apalagi waktu itu sedang periode musim dingin yang bersalju walaupun Busan dikenal sebagai salah satu kota di Korea yang jarang sekali turun salju. 
    Tapi seminggu sebelum keberangkatan, saya di kejutkan dengan berita yang membuat saya shock. Saya baru di beri tahu bahwa visa pelajar untuk kuliah Malaysia saya sudah expired dan saya terancam batal berangkat kalau saya tidak bisa mendapatkan visa baru. Memang salah saya, karena saya fikir saya tidak memerlukan visa Malaysia karena saya akan berangkat ke Korea. Saya sudah sempat mengirimkan application form untuk visa Malaysia tapi saya belum mengantar passport asli untuk mendapatkan cap visa. Tapi saya fikir, ya sudah toh saya kan hanya perlu visa Korea.  Jadi saya hanya menguruskan visa Korea. Tapi ternyata, untuk keluar Malaysia, katanya harus ad visa Malaysia yang masih valid. Berita yang ini memang sukses membuat saya stress berat karena yang saya tahu, proses untuk mendapatkan visa Malaysia ini sangat panjang yang tahun lalu memakan waktu 3 bulan dimana setelah mendapatkan approval dari pihak imigrasi kita harus mengantar passport asli yang memakan waktu sekitar 1 atau 2 bulan. Sedangkan saya hanya punya waktu 1 minggu. Saya sudah pasrah dan merasakan kesempatan ke Korea Selatan kali ini telah gagal.  Namun, entah kenapa tiba-tiba saya seperti masih mau memperjuangkan semuanya. Saya masih mempunyai harapan bahwa ada keajaiban yang masih bisa di dapat walaupun dengan waktu yang sangat terbatas. Saya bertekad bahwa saya akan memperjuangkan visa saya, dan apapun yang terjadi nanti apakah saya batal berangkat atau tidak, saya sudah merelakan mungkin bukan rejeki saya. Namun sebelum pembatalan ini benar-benar postif, disaat saya masih punya kesempatan, maka saya akan memperjuangkan. Datanglah saya ke kantor pengurusan visa, saya diminta untuk menyediakan beberapa surat pendukung dari Universitas Korea yang akan saya datangi, surat pendukung dari kampus di Malaysia, dan beberapa surat lainnya yang menyatakan bahwa saya sangat membutuhkan visa ini dalam waktu yang sangat singkat untuk keadaan gawat darurat. Untungnya semua staff sangat membantu dan bersedia menguruskan semuanya. Setiap hari saya datang ke kantor pengurusan visa dan selalu menanyakan apakah visa saya sudah siap?” Staff pengurus visa hanya berkata “belum bisa memastikan ,tapi akan kami usahakan”. 2 hari sebelum keberangkatan, saya belum juga mendapatkan kepastian apakah visa saya sudah siap atau belum. Dan saya diminta untuk datang lagi keesokan harinya. 1 hari sebelum keberangkatan. Hari itu lah penentuan apakah saya mendapatkan kesempatan untuk berangkat atau tidak. Saya hanya bisa menenangkan diri sendiri dan berusaha berfikir positif. Rasa cemas dan was was selalu datang, tiket pesawat yang sudah di tangan dan terancam hangus sudah terbayang, tapi saya berusaha menepis kegundahan waktu itu. Hingga pukul 5 petang disaat kantor nya hampir tutup, saya masih disuruh menunggu. Menunggu salah satu staff yang menguruskan visa saya di Kantor Imigrasi pusat. Perasaan sudah campur aduk dan saya tidak bias membendung air mata di depan semua staff. Saya menangis sambil menunggu.  Bagaimana tidak, pesawat saya sudah harus berangkat keesokan hari nya pukul 10 pagi. Dan hari itu saya masih harap-harap cemas menunggu kepastian. Tidak berapa lama, datang lah staff yang ditunggu tunggu. “Mana yang namanya Widya Handini? Nasib awak masih bagus, ni visa Malaysia awak dah ade” kata staff dari visa unit itu dalam bahasa Malaysia. Saya seperti mendapatkan durian runtuh yang jatuh dari langit. Dan menangis lagi, tapi kali ini menangis bahagia.
    Di hari keberangkatan, saya bertemu dengan 9 orang lainnya yang sama-sama menjadi siswa pertukaran pelajar di PKNU (Pukyong National University). Kami bertemu untuk pertama kalinya di Bandara. Dan 9 orang ini lah yang nantinya akan menjadi teman saya sesama siswa pertukaran pelajar perwakilan dari kampus kami selama 1 semester. 9 orang ini kebetulan semuanya perempuan dan berasal dari Malaysia. Dan saya satu-satu nya mahasiswa Indonesia dari group ini. Tapi itu tidak menjadi masalah. Mereka semua sangat baik dan  saya yakin kami akan jadi teman baik juga selama di korea.
    Setelah menempuh perjalanan panjang , akhirnya kami sampai juga di bandara Korea Selatan yang letak nya di Incheon. Namun, kami masih punya perjalanan tambahan. Karena tujuan utama kami adalah kota Busan. Dan kami harus naik pesawat lagi selama 1 jam untuk sampai ke Kota tersebut.  Setelah sampai di Busan. Kami telah di tunggu oleh beberapa perwakilan siswa dari kampus tempat kami akan belajar di bandara. Pihak kampus PKNU telah menyediakan buddy untuk kami. Buddy merupakan panggilan untuk siswa korea PKNU yang telah di pilih untuk membantu siswa asing selama 1 semester di kampus. Saya juga mendapatkan 1 buddy perempuan. Nama nya Eunha Jung. Pelajar tahun akhir yang bersedia menjadi buddy. Eunha sangat baik. Dia bercerita bahwa dia mendaftar untuk menjadi buddy selama 1 semester karena dia ingin sekali punya teman dari luar korea dan dia ingin melatih bahasa inggris nya. 
    Rasanya seperti mimpi, saya menginjakkan kaki di Kota Busan. Suasana nya berbeda dari Malaysia dan Indonesia. Semua tulisan di tempat umum menggunakan tulisan Hanggul. Dan saya tidak mengerti sepatah katapun kecuali kata “Annyeonghaseyo”. Saya memang belum pernah belajar bahasa Korea sebelumnya. Tingkat kelancaran berbahasa Korea memang tidak menjadi syarat untuk menerima beasiswa pertukaran pelajar ini. Namun setiap siswa wajib mengambil kursus bahasa Korea dan budaya Korea selama belajar di PKNU. Saya juga akan mengambil beberapa subjek dalam bidang ekologi.
    Selama proses pertukaran pelajar. Pihak kampus menyediakan asrama untuk siswa asing. Pertama kali sampai di asrama, saya terkejut. Dalam hati saya bergumam, “Ini bukan asrama, tapi ini hotel”. Terang saja, kami di sediakan asrama yang mewah. 1 kamar bisa di isi 2 orang siswa dengan berbagai fasilitas yang menurut saya mewah. Karena selama ini kamar yang saya tempati tidak pernah sebagus kamar di asrama PKNU yang lengkap dengan kulkas besar, pemanas ruangan, AC, internet yang super cepat dan kamar mandi di dalam kamar yang lengkap dengan bathub. Saya tinggal satu kamar dengan teman saya dari Malaysia. Hari pertama kami tinggal di asrama, kami sangat menderita dengan cuaca dan suhu musim dingin yang sangat dingin. Suhu mencapai 4 celcius. Dan lucunya, waktu itu kami tidak tahu kalau di kamar ada pemanas ruangan. Jadilah kami kedinginan luar biasa dan merasa hampir beku di hari pertama. Dan di hari pertama tersebut, kami kelaparan di malam hari dan berencana untuk makan mie instan yang kami bawa dari Malaysia. Tapi kami kesulitan mencari air panas. Untung nya kami sudah di beri tahu kalau di lobi asrama ada minimarket 24 jam. Dan cultural shock pertama pun datang. Kami tidak bias berbahasa Korea. Dan penjaga minimarket tidak bias berbahasa inggris. Maka kami sangat kesulitan untuk meminta air panas. Setelah proses yang cukup panjang, dan disertai dengan bahasa tambahan yaitu bahasa tubuh, akhir nya penjaga minimarket mengerti bahwa kami memerlukan air panas untuk makan mie instant. Lucu, hal sederhana seperti meminta air panas pun perlu perjuangan panjang untuk mendapatkannya.
    Dan ternyata di asrama kami juga menyediakan paket lengkap makan 3 kali sehari dengan menu khas korea yang bervariasi. Cultural shock yang kedua pun datang. Saya kaget, mereka sering menyediakan makanan non halal yaitu daging babi. Jadi, selama di asrama, saya selalu bertanya ke penjaga dewan makan, apakah ini daging babi atau bukan dan saya menjelaskan bahwa saya tidak bias memakan makanan seperti itu. Untungnya mereka mengerti, dan menyediakan makanan yang bisa dimakan untuk muslim seperti telur dan ikan. Minggu-minggu pertama di asrama, jujur saya kekurangan nafsu makan. Cita rasa makanan di Korea sangat berbeda dengan makanan Indonesia yang berempah. Namun setelah berjalannya waktu saya sudah bisa beradaptasi dengan makanan di Korea. 

    Bersambung ........

  2. 0 comments:

    Post a Comment